Dapur MBG Baru di Sukerara: Pemborosan atau Modus Korupsi?


Foto: Ilustrasi
Faktantb.com, Lombok Tengah (31/1/2026)– Pemerhati MBG Lombok Tengah, Lalu Subadri, protes keras pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG baru di wilayahnya pasalnya sudah ada dapur MBG diwilayah Desa Sukerara. Ia menilai proyek ini tidak perlu karena SPPG existing sudah mencakup 100% penerima manfaat sebanyak 2.500 jiwa, dari TK, PAUD, SD, SMP, SMA, hingga 3B (Bumil,Busui dan Balita). Hal ini disampaikan ke faktantb.com pada Jumat, 30 Januari 2026 di Sukerara 


Lalu Subadri mengatakan  pembangunan dapur baru bakal boroskan anggaran negara dua kali lipat. "SPPG lama sudah ideal melayani satu desa. Kenapa dipaksa jadi dua atau lebih, malah potensi korupsi dan hambur-hambur uang rakyat," jelasnya saat ditemui Jumat (30/1/2026).

Potensi Pemborosan Rp25,8 Miliar Setahun

Lalu Subadri  merinci potensi kerugian negara berdasarkan anggaran per SPPG. Satu penerima manfaat dapat Rp.15.000 per hari. Dengan 2.500 penerima:

- Harian: Rp.15.000 × 2.500 = Rp.37,5 juta (bukan 3.000 seperti klaim awal, tapi disesuaikan data warga).

- Bulanan (24 hari): Rp.37,5 juta × 24 = Rp.900 juta.

- Tahunan (12 bulan): Rp.900 juta × 12 = Rp.10,8 miliar.

Jadi, jika dua SPPG beroperasi, total anggaran membengkak menjadi Rp.21,6 miliar per tahun—potensi pemborosan Rp.10,8 miliar. "Ini modus bagi-bagi penerima manfaat secara proporsional, negara keluar duit dobel," tambahnya

Dugaan Jual Beli Titik SPPG

Ia mengatakan kecurigaan warga kian kuat usai tudingan Ketua Umum Aliansi Pemerhati Program BGN, Ahmad Yazdi, di Jakarta pada Oktober 2025. Ia menuding praktik "jual beli titik" SPPG. Kasus Sukerara disebut mirip: proyek dipaksakan meski SPPG lama sudah cukup.

"Semangat MBG pemenuhan gizi anak menuju generasi emas 2045, plus tuntas stunting dan kemiskinan. Bukan ajang korupsi!" tegasnya

Permintaan ke Satgas BGN

Lalu Subadri mendesak Satgas BGN Provinsi NTB, Kabupaten Lombok Tengah, Kareg, dan Korwil untuk cross-check ke Desa Sukerara. Ia minta titik SPPG baru dipindah ke lokasi yang butuh, seperti Desa lain yang punya SPPG tapi belum dapat titik operasional.

"Pindahkan ke Desa lain yang belum ada dapur MBG nya agar program ini tepat sasarannya"tegasnya.

Hingga kini, pemerintah daerah belum beri tanggapan resmi. Pantauan tim redaksi, pembangunan SPPG baru di Sukerara terus berjalan meski protes warga kian santer. (ms)