Faktantb. com, Lombok Barat, 30 Januari 2026 — Forum Peduli Pembangunan dan Pelayanan Publik (FP4) NTB mengkritik program psikotes oleh pihak ketiga di SMP Negeri 4 Lombok Barat. Skema "tes gratis, hasil berbayar" ini dinilai membingungkan, menyesatkan, dan berpotensi melanggar prinsip pelayanan publik.
"Program Psikotes ini, dilaksanakan di SMP 4 Gerung oleh Cendekia Ganesha Indonesia, Personal Development & Psychology Center secara gratis namun hasi tesnya harus dibayar 40 ribu" ungkapnya
Sekretaris FP4 NTB, Lalu Deny Rusmin J., menyebut pola ini sebagai "kreativitas kebijakan yang terlalu kreatif untuk sekolah negeri". "Kalau tesnya gratis tapi hasilnya berbayar, itu seperti ujian tapi rapornya opsional. Buat apa tes kalau hasilnya tak boleh diakses tanpa bayar? Ini bukan soal Rp. 40 000. tapi akal sehat pelayanan publik," tegas Deny saat dihubungi Jumat (30/1).
Menurut Deny, masalah utama bukan biaya, melainkan status kegiatan: wajib atau sukarela? Surat edaran sekolah yang menyebut "akan diikuti semua siswa" menciptakan kesan kewajiban, meski diklaim tak ada pungutan. "Dalam hukum administrasi, yang dinilai bukan niat, tapi dampak. Kalau redaksinya bikin orang tua tak enak tolak, itu sudah tekanan," tambahnya.
FP4 NTB khawatir sekolah negeri jadi ajang promosi jasa pihak ketiga, apalagi soal data sensitif seperti IQ, minat, dan kepribadian anak. "Data psikologis bukan daftar hadir upacara. Tanpa izin jelas, persetujuan orang tua, dan perlindungan data, risikonya administratif sekaligus etis," kata Deny.
Forum ini meminta klarifikasi terbuka dari sekolah dan penyelenggara: Apakah psikotes wajib atau sukarela? Apakah siswa non-bayar tetap dapat hasil? Ada konsekuensi akademik bagi yang tak ikut? Bagaimana pengelolaan dan perlindungan data siswa?
"Sekolah tempat mendidik, bukan uji coba model bisnis. Pelayanan publik harus jujur sejak redaksi suratnya," sindir Deny.
FP4 NTB akan melakukan klarifikasi terhadap sekolah tersebut, dan siap lapor pengawasan resmi jika tak ada penjelasan memadai. "Kami pastikan hak anak dan orang tua tak dikorbankan kebijakan setengah matang," pungkasnya.
Terkait pernyataan FP4 NTB ini, kepala SMPN 4 Gerung menyatakan tidak pernah memerintah untuk membayar ikut program tersebut, jelasnya melalui sambungan telepon 30/1/2026
Ia mengatakan Cendekia Ganesha Indonesia, Personal Development & Psychology Center meminta melakukan kegiatannya di sekolah namun saya katakan kalau gratis silakan kalau bayar jangan,
"Saya tegaskan kalau gratis silakan kalau bayar jangan"jelasnya
Intinya pihak sekolah tidak pernah mengarahkan anak anak untuk ikut dan membayar, kalaupun dia membayar, bayarnya kesiapa?? tutupnya. (ms)


