Faktantb.com, Lobar, 5 Maret 2026 – Lembaga Swadaya Masyarakat KASTA NTB menyoroti kerusakan mesin pengolah sampah teknologi Masaro di Kabupaten Lombok Barat. Proyek senilai Rp10 miliar di TPST Senteluk dan PDU Lingsar rusak dalam tiga bulan.
Ketua KASTA NTB DPC Batulayar, Jajap AW, menyatakan kegagalan mesin di TPST Senteluk adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat Batulayar. "Mesin Masaro di TPST Senteluk ini sekarang hanya jadi rongsokan mahal. Baru tiga bulan berjalan sudah rusak. Jika sejak awal kualitas mesinnya diragukan, kenapa dipaksakan diterima?" katanya.
Humas KASTA NTB, Taufik Hidayat, menyatakan persoalan ini bukan hanya di satu titik, tapi mencakup seluruh paket pengadaan Masaro di Lombok Barat. "Kami melihat ini bukan sekadar kerusakan teknis biasa, tapi kegagalan pengadaan secara menyeluruh," ujarnya.
KASTA NTB telah menginstruksikan tim investigasi untuk mengumpulkan bukti sebagai dasar laporan ke Kejaksaan. "Anggaran Rp10 miliar untuk Senteluk dan Lingsar itu bersumber dari rakyat. Seharusnya dengan nilai anggaran sebesar itu dilakukan uji coba dan pengujian kelayakan secara serius sebelum mesin diterima dan dioperasikan," tegas Taufik.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Lombok Barat yang dikonfirmasi faktantb.com menjelaskan bahwa Masaro, mesin pengolah sampah canggih, siap mengolah 20 ton sampah per hari dalam kondisi ideal. Namun, kinerja maksimal bergantung pada pemilahan sampah yang baik dan kering.
Sampah yang tidak terpilah, terutama yang mengandung benda keras seperti besi, beling, atau batok kelapa, dapat mengganggu proses pengolahan. Musim penghujan menambah tantangan karena sampah basah memperlambat proses pengolahan.
Pengaturan sampah dari hopper ke conveyor sangat krusial untuk mencegah kemacetan di rotari dan memastikan pembakaran di insinerator berjalan lancar. Dalam uji coba dengan sampah kering dan terpilah dari hotel, Masaro mampu mengolah 2 truk sampah dalam waktu kurang dari 2 jam menggunakan 2 sisi alat.
Dengan operasional 8 jam, potensi pengolahan mencapai 8 truk atau lebih dari 20 ton sampah. Namun, pengolahan sampah dengan Masaro memerlukan kerja ekstra dari tim, terutama dalam memilah sampah.
Saat ini, mesin Masaro di TPST Senteluk tidak beroperasi karena gangguan di blower, yang mempengaruhi proses pengeluaran asap. Tim teknis sudah bekerja untuk memperbaiki masalah ini.

