Faktantb.com, (8/4/2026) Lombok Tengah – Bupati Lombok Tengah, H. Lalu Pathul Bahri, menyampaikan angka kemiskinan di daerahnya turun dari 13,44 persen pada 2021 menjadi 10,68 persen pada 2025.
"Terakhir kita berada di posisi 10,68 persen. Saya ucapkan apresiasi dan terima kasih kepada seluruh elemen masyarakat, karena ini bukan saja hasil Bupati dan Wakil Bupati, tapi ini adalah hasil kerja bareng keluarga masyarakat Loteng," kata Bupati dalam Musrenbang RKPD 2027 beberapa pekan lalu.
*Petani Masih Penyumbang Kemiskinan Terbesar*
Pathul tidak menafikan bahwa penyumbang terbesar angka kemiskinan masih berasal dari sektor pertanian. Meski produksi beras tinggi, hal itu belum mampu mendongkrak Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
"Posisi terbaru Rp23 triliun. Kalau produk pertanian kita ya kita akuilah, tetapi perlu kerja-kerja yang lain seperti pabrik untuk mengolah hasil pertanian," ujarnya.
Ia menyebut harga gabah yang rendah jadi salah satu penyebab petani di Loteng masih masuk desil 1 dan desil 2 atau kategori miskin. "Baru tahun kemarin harga gabah naik di posisi Rp6.000/kg dan sekarang menjadi Rp6.500/kg. Mudah-mudahan ke depan semakin baik, sehingga bisa memberikan daya dorong pergerakan ekonomi di level bawah," harapnya.
*Dorong Sinergi Lintas Sektor*
Pathul melanjutkan, angka kemiskinan Loteng saat ini sudah di bawah rata-rata provinsi. Untuk meningkatkan PDRB, ia menekankan pentingnya menggabungkan seluruh sektor peningkatan ekonomi.
"Misalnya selain hasil pertanian meningkat, harga gabah tinggi, dari sektor pariwisata juga harus ikut ditingkatkan," contohnya.
Penurunan angka kemiskinan hingga 10 persen diklaim sebagai hasil sinergi lintas sektor. Ia menegaskan pencapaian ini merupakan hasil kolaborasi dengan DPRD, TNI, Polri, dan masyarakat.

