Cerita di Balik Pilihan Suyat Kuliah Kedokteran Unram



Oleh: Abah Nun

Praya, 29 April 2026, Sore itu, Suyat masih duduk di bangku kelas 3 SMA. Di beranda rumah, aku bertanya pelan, "Yat, nanti kalau lulus mau lanjut kuliah ke mana?"

Tanpa ragu dia menjawab, "Insyaallah di Unram saja, Bah."

"Oh, kalau begitu rencananya mau ambil jurusan apa?" tanyaku lagi.

"Kedokteran, Bah. Suyat berharap bisa dapat beasiswa," jawabnya mantap.

Aku terdiam sejenak. "Kenapa tidak coba yang jauh? UGM atau UI? Kan itu universitas ternama?"

Suyat tersenyum tipis. "Suyat sebenarnya mau banget kuliah di UI atau Jakarta, Bah. Itu impian banyak orang."

Lalu dia menjelaskan alasannya. Matanya teduh, tapi kalimatnya tegas. Unram dipilihnya bukan karena kurang percaya diri, tapi karena sadar diri. Kuliah di luar daerah berarti biaya awal yang besar: uang kos, kasur, kompor, panci, semua hal kecil yang kalau ditotal jadi gunung. 

"Kalau di Unram, Suyat masih bisa pulang. Bisa makan di rumah. Bisa hemat, Bah. Suyat mau kejar cita-cita jadi dokter tanpa bikin Abah sama Ummi terlalu berat," katanya.

Aku menelan ludah. Di usia semuda itu, dia sudah belajar menimbang mimpi dengan keadaan keluarga.

Perjuangan yang Tidak Mudah
Jalan Suyat menuju jas putih tidak langsung mulus. Dia ikut tes masuk berkali-kali, dan hasilnya belum memuaskan. Setahun dia jeda. Setahun itu bukan waktu yang pendek untuk anak SMA yang melihat teman-temannya sudah pakai almamater.

Di masa penantian itu, banyak suara datang. "Ngapain maksa kedokteran? Ambil jurusan lain saja yang cepet lulus." "Kasihan orang tuamu nunggu kelamaan."

Di situlah aku memposisikan diri. Bukan untuk memaksa, tapi untuk menguatkan. "Kalau memang ini yang kamu mau, bertahanlah, Yat. Orang yang tekun, ikhlas, dan tulus belajar, pada waktunya akan sampai." Aku percaya itu. Aku pernah lihat, pernah baca, dan sekarang aku ingin Suyat membuktikannya sendiri.

Setahun kemudian, namanya muncul di pengumuman: Baiq Suyatmin Rahma, diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Mataram.

Itulah kenapa hari ini dia jadi "dr. muda". Pilihannya lahir dari kearifan melihat kondisi keluarga, dan dari keteguhan hati yang tak goyah meski berkali-kali jatuh.

Anak-anakku, pesanku satu: gagal sekali, dua kali, tiga kali bukan alasan untuk menyerah. Bangkit, belajar, dan belajar lagi. Insyaallah kalian akan sukses dunia akhirat. Doa Abah menyertai kalian semua.

Ditulis oleh Abah Nun.