Faktantb.com. Suasana meriah nonton peresean Sabtu malam 23 Mei 2026 berubah mencekam. Seorang anak nyaris hilang nyawa setelah terjatuh ke lubang sedalam 4 meter di area Koloseum Giri Menang. Video kejadian itu viral akhir pekan lalu dan memicu gelombang kritik terhadap standar keselamatan penyelenggara.
Kejadian terjadi saat penonton memadati koloseum untuk menyaksikan pertunjukan peresean, agenda rutin tiap Sabtu dan Minggu yang menarik warga dan wisatawan lokal. Anak ketiga Wayan SE terpeleset masuk ke lubang tanpa pembatas. Beruntung, korban berhasil dievakuasi dan tidak mengalami luka serius.
“Anak saya yang nomor 3 jatuh dan tidak ada sama sekali tanggapan dari panitia presean maupun dari pihak pemerintah,” ujar Wayan. Ia mengaku tidak tahu fungsi lubang itu. “Mungkin lubang hantu,” katanya.
Penelusuran video yang beredar menunjukkan area kejadian terbuka tanpa rambu peringatan maupun petugas jaga di titik rawan. Kondisi ini langsung disorot warga dan aktivis. Bagi mereka, absennya pembatas bukan sekadar kelalaian teknis, tapi risiko fatal yang bisa dihindari.
“Kritik publik bukan sekadar reaksi emosional. Ini panggilan moral dan administratif,” tulis netizen. Menurutnya, area terbuka tanpa tanda bahaya melanggar prinsip dasar keselamatan ruang publik.
Publik kini menuntut penjelasan dari pengelola Koloseum Giri Menang dan pemerintah daerah. Dua hal yang paling disuarakan: penyebab pasti kejadian dan langkah perbaikan konkret sebelum peresean berikutnya digelar.
Sejumlah usulan mendesak muncul:
- Inspeksi total: Pemeriksaan menyeluruh seluruh area koloseum untuk memetakan titik bahaya dan kerusakan struktur.
- Pembatas darurat: Pemasangan pembatas sementara dan rambu peringatan di titik rawan.
- SOP keselamatan: Penyusunan standar operasional yang mencakup jumlah petugas pengamanan, penempatan tim pertolongan pertama, dan jalur evakuasi.
- Pelatihan panitia: Pembekalan manajemen kerumunan dan pertolongan dasar bagi panitia lokal.
- Publikasi hasil: Keterbukaan hasil inspeksi dan rencana perbaikan agar masyarakat bisa ikut mengawasi.
Pemerintah daerah sebagai pemberi izin juga didesak menegakkan regulasi keselamatan tanpa pengecualian. Keterlibatan warga lewat kanal pelaporan resmi dinilai penting untuk pencegahan di lapangan.
“Keberhasilan sebuah acara tidak diukur dari banyak karcis yang terjual atau keramaian penonton, tetapi dari seberapa baik penyelenggara melindungi warganya,” tulis seorang netizen.
Senyapnya Pengelola.
Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pengelola Koloseum Giri Menang maupun pemerintah daerah terkait insiden dan rencana perbaikan. Keheningan itu justru menambah keresahan publik yang menanti tindakan, bukan janji.
Peresean tetap akan digelar tiap akhir pekan. Pertanyaannya: apakah panggung budaya ini akan dibenahi sebelum korban berikutnya jatuh? Jika terjadi korban jiwa dalam acara itu siapakah yang bertanggung jawab?
Editor: Mustain
