Faktantb. com. — Napas MTQ XXXI NTB 2026 mulai melambat. Lomba usai, tilawah mereda, dan malam penutupan menanti di ujung agenda. Tapi sebelum podium diturunkan, para kafilah memilih satu jeda yang tak kalah hikmat: menatap alam.
Senin, 15 Juni 2026. Lombok Utara dan kontingen Kabupaten Bima meninggalkan tenda dan mikrofon. Tujuan mereka bukan masjid atau panggung utama, melainkan deru air di Air Terjun Benang Kelambu dan Benang Setokel. Di sana, tak ada juri yang menilai tajwid. Hanya desir air, tebing lumut, dan rimbun hutan yang jadi saksi.
Momen ini sederhana, tapi mengena. Setelah berhari-hari bertarung dengan nada dan napas panjang ayat, mereka butuh ruang untuk melepas penat. Lebih dari itu, butuh ruang untuk saling mengenal. Di pinggir kolam bening Benang Kelambu, qari dari Bima berbagi cerita dengan ofisial Lombok Utara. Silaturahmi yang tak akan lahir di sela jadwal lomba yang ketat.
“Ini hadiahnya,” gumam salah satu peserta sambil menutup mata, membiarkan kabut air membasahi wajah. Sejuk Lombok Tengah memang pandai mengobati lelah.
MTQ bukan hanya syiar. Ia juga undangan. Lewat jeda-jeda seperti ini, Lombok Tengah memperkenalkan dirinya: tuan rumah yang tak hanya menyiapkan panggung, tapi juga pemandangan. MTQ XXXI NTB meninggalkan catatan ganda — Al-Qur’an berkumandang, dan potensi wisata ikut disebut.
Terima kasih untuk semua kafilah yang sudah hadir. Lombok Tengah membuka pintunya lebar-lebar. Panggung MTQ boleh dibongkar, tapi air terjunnya tetap mengalir. Datang lagi. Kali ini bukan untuk berlomba, tapi untuk menikmati.(*)

