Faktantb.com (15/6/2026) Lampu Bencingah Agung Masmirah meredup Senin malam, 15/6/2026. Tapi gaung ayat-ayat terakhir MTQ XXXI NTB belum juga padam. Tepat saat kalender Hijriah berganti ke 1 Muharram 1448 H, Wakil Gubernur NTB Hj. Indah Dhamayanti Putri mengetuk palu penutupan.
Momen itu sengaja. Bukan sekadar seremoni. “MTQ bukan panggung adu suara merdu,” kata Umi Dinda, sapaan akrabnya. “Ini ikhtiar membangun peradaban Qur’ani. Kita menyiapkan generasi yang menjadikan Al-Qur’an bukan hanya hafalan, tapi kompas.”
Kalimat itu jadi benang merah malam penutupan. Di hadapan para qari, qariah, dewan hakim, dan kepala daerah se-NTB, Umi Dinda menegaskan: ukuran sukses MTQ bukan jumlah piala. Melainkan seberapa dalam Al-Qur’an menancap di ruang tamu, sekolah, dan kantor bupati.
Visi “NTB Serambi Al-Qur’an” yang digaungkan Pemprov bukan slogan kosong. Ia butuh mesin pembinaan yang terus berputar setelah arena lomba dibongkar. “Al-Qur’an harus jadi benteng bagi generasi yang akan mewarisi estafet pembangunan NTB,” ujarnya.
Tuan Rumah Sekaligus Raja
Kalau ada yang paling bersorak malam itu, dialah Lombok Tengah. Kabupaten yang menjamu 10 daerah ini pulang dengan dua mahkota: tuan rumah tersukses dan Juara Umum MTQ XXXI. Skor akhir 245 poin, jauh meninggalkan Lombok Timur di posisi kedua dengan 177 poin.
Bupati Lalu Pathul Bahri menarik napas lega. Penyelenggaraan di tanahnya dipuji Kemenag RI “setara level nasional”. Bagi Pathul, itu bukan pujian, tapi amanah. “Gema Al-Qur’an tidak boleh berhenti saat panggung diturunkan,” katanya.
Daftar perolehan poin menegaskan peta pembinaan Qur’an di NTB makin merata. Lombok Barat 147 poin, Bima 142, Sumbawa Barat 141, disusul Sumbawa, Mataram, Kota Bima, Dompu, dan Lombok Utara. Selisih tipis antar-daerah menunjukkan: persaingan sehat sedang tumbuh.
Setelah Palu diketuk
Umi Dinda menutup pidatonya dengan titah untuk Muharram: perkuat iman, rapatkan ukhuwah, kunci sinergi. MTQ, katanya, harus turun gunung. Masuk ke majelis taklim, kurikulum sekolah, hingga kebijakan pemerintah.
Arena lomba memang sudah sepi. Tapi babak paling berat baru dimulai: menerjemahkan ayat jadi akhlak, hafalan jadi kebijakan, dan tilawah jadi fondasi NTB yang religius, harmonis, dan berkemajuan.
Perlombaan selesai. Peradaban Qur’ani baru mulai.
Editor: Mustain

