Faktantb.com. Mataram bergemuruh. Bendera Lombok Tengah berkibar paling tinggi kedua di langit PORPROV NTB XII 2026.
Saat hasil akhir dikunci, kontingen Bumi Tatas Tuhu Trasna menutup pesta olahraga empat tahunan itu dengan angka yang bikin merinding: 125 emas, 93 perak, 126 perunggu. Total 344 medali. Cukup untuk mengunci posisi runner-up klasemen akhir.
Dua dari 125 emas itu datang dari cabang ekshibisi, Teqball dan Padel, cabang baru yang langsung jadi panggung unjuk gigi atlet muda Lombok Tengah.
Angka besar itu bukan kebetulan. Lombok Tengah datang bukan sekadar untuk ikut, tapi untuk menguasai.
Dari 49 cabang olahraga yang dipertandingkan, 13 di antaranya dinobatkan sebagai Juara Umum. Artinya, satu dari empat cabor yang dilombakan jatuh ke tangan atlet Lombok Tengah.
Daftar "mesin emas" itu:
Taekwondo, Kempo, MMA, Tinju, Wushu, Judo, Tenis Meja, Bulutangkis, Dayung, Aerosport, Perserosi atau Sepatu Roda, Pickleball, dan Selancar Ombak.
Mulai dari bela diri di atas matras, adu raket di meja dan lapangan, hingga adu kecepatan di air dan udara, semuanya diborong. Dominasinya merata. Tidak ada satu klaster yang timpang.
"Ini bukan soal satu dua atlet bintang. Ini soal sistem," kata seorang pelatih di mixed zone. Dan sistem itu terbukti bekerja.
"Buah Kerja Keras Bersama"
Di tribun kehormatan, Ketua KONI Kabupaten Lombok Tengah H. L. Firman Wijaya, S.T., M.T. menahan senyum lega.
"Alhamdulillah, capaian ini merupakan buah dari kerja keras, disiplin, dan semangat juang seluruh atlet, pelatih, ofisial, serta dukungan penuh Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah dan masyarakat. Peringkat kedua dengan raihan 125 medali emas menjadi kebanggaan bagi kita semua. Terlebih, 13 cabang olahraga berhasil meraih predikat juara umum, yang menunjukkan bahwa pembinaan olahraga di Lombok Tengah berjalan pada jalur yang tepat," ujarnya.
Firman tak lupa menghaturkan terima kasih khusus. Dari Bupati dan Wakil Bupati, para Kepala Perangkat Daerah dan BUMD yang jadi "orang tua asuh" cabor, hingga CdM, koordinator, relawan, dan masyarakat yang tak henti mendoakan dari rumah.
"Prestasi ini adalah milik seluruh masyarakat Lombok Tengah," tegasnya.
Bukan Titik Akhir.
Bagi KONI Lombok Tengah, podium kedua ini bukan garis finish. Ini batu loncatan.
Keberhasilan 2026 diharapkan jadi bara untuk generasi berikutnya. Dengan sinergi pemerintah daerah, KONI, pengurus cabor, pelatih, atlet, dan dukungan masyarakat, targetnya jelas: naik lagi, lebih tinggi, di ajang berikutnya.
Di lapangan, atlet masih bersalaman. Di luar arena, anak-anak Lombok Tengah sudah mulai meniru gaya pukulan bulutangkis dan tendangan taekwondo yang tadi sore mengantar daerahnya ke podium.
PORPROV NTB XII boleh usai. Tapi gaung Lombok Tengah baru saja dimulai. (*)

