LOMBOK TENGAH, faktantb.com (6/7/2026)— Malam puncak Festival Begawe Jelo Nyesek 2026 di Desa Sukarare, Lombok Tengah, berlangsung meriah, Sabtu (4/4/2026). Ribuan warga memadati lokasi untuk menyaksikan atraksi budaya khas Sasak seperti Tari Gandrung, Pepaosan, Ngendang, Pekendeng Banget, hingga Pekendeng Api.
Pekendeng Banget dan Pekendeng Api merupakan tradisi yang saat ini hanya tersisa di sejumlah wilayah selatan Pulau Lombok. Melalui festival tahunan ini, tradisi yang sempat redup kembali diperkenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda.
Kegiatan tersebut dihadiri Wakil Bupati Lombok Tengah Nursiah dan Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah Lalu Muhamad Faozal. Kehadiran keduanya menambah antusiasme warga.
Dalam sambutannya, Nursiah menegaskan pentingnya menjaga tradisi unik tersebut sebagai bagian dari identitas budaya masyarakat Sasak.
“Atraksi budaya seperti ini harus kita lestarikan dan angkat kembali. Selain menjadi identitas budaya daerah, tradisi ini juga merupakan kekayaan yang mampu menarik minat wisatawan untuk datang ke Lombok Tengah,” ujarnya.
Nursiah menilai festival ini tidak hanya sebagai hiburan, tetapi juga sarana edukasi dan literasi budaya bagi generasi milenial dan Gen Z yang mulai kurang mengenal warisan leluhur akibat pengaruh budaya modern.
Ia juga mendorong Pemerintah Desa Sukarare melakukan pendataan transaksi ekonomi selama festival.
“Ke depan, Pemerintah Desa Sukarare harus mampu mengidentifikasi berapa besar transaksi yang terjadi selama event berlangsung, baik dari pelaku UMKM tenun maupun pelaku usaha lainnya. Dengan demikian, manfaat ekonomi dari festival ini dapat diukur secara jelas,” katanya.
Hal senada disampaikan Kepala Dinas Pariwisata Lombok Tengah Lalu Muhamad Faozal. Menurutnya, tingginya jumlah pengunjung menunjukkan potensi besar festival budaya dalam menggerakkan perekonomian.
“Kalau melihat antusiasme masyarakat sebanyak ini, tentu dampak ekonominya juga harus terasa. Bahkan dari side event saja mampu menghadirkan massa dalam jumlah besar. Artinya, produk UMKM lebih banyak terjual, jasa parkir memperoleh manfaat, hingga pelaku usaha kecil lainnya ikut merasakan dampaknya,” ujarnya.
Tokoh masyarakat Desa Sukarare Syamsul Bahri mengapresiasi dukungan pemerintah daerah. Ia berharap festival ini terus dikembangkan menjadi agenda budaya unggulan.
“Harapan kami, festival ini tidak hanya menjadi hiburan dan promosi pariwisata, tetapi juga benar-benar memberikan dampak ekonomi yang terukur bagi masyarakat Desa Sukarare,” kata Syamsul.
Festival Begawe Jelo Nyesek dinilai dapat menjadi inspirasi bagi desa lain di Lombok Tengah untuk mengangkat kembali tradisi dan kearifan lokal. Pengembangan festival berbasis budaya lokal diyakini mampu memperkaya destinasi wisata, meningkatkan kunjungan wisatawan, memperpanjang lama tinggal, serta mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.
Editor: Mustain

