Faktantb.com. (15/7/2026)— Malam itu Lapangan Umum Mujur penuh. Lampu sorot menyapu barisan kafilah yang baru saja menuntaskan pawai alegoris sepanjang beberapa kilometer dari Pasar Mujur. Senin, 13/7/2026. Bupati Lombok Tengah H. Lalu Pathul Bahri berdiri di mimbar pembukaan MTQH XXXII Tingkat Kecamatan Praya Timur.
Tema yang diusung tahun ini lugas: “Mewujudkan Generasi Islami Menyongsong Masa Depan yang Cemerlang”. Namun bagi Pathul, tema bukan sekadar slogan di spanduk.
“Kita sangat bersyukur atas prestasi para pecinta Al-Qur’an yang telah mempertahankan juara umum. Namun, bukan berarti kita larut dalam kebahagiaan,” katanya. Kalimat itu ia ulang dua kali.
Alasannya sederhana. Lombok Tengah memang sedang berada di puncak. Dua kali berturut-turut menyabet juara umum MTQ tingkat Provinsi NTB. Puncaknya, saat daerah ini menjadi tuan rumah MTQ XXXI Tingkat Provinsi, piala itu kembali dibawa pulang.
Tapi euforia, kata Pathul, bisa jadi jebakan. Ia tak ingin syiar Al-Qur’an berhenti di podium.
Beberapa jam sebelum pembukaan, suasana Mujur sudah riuh. 313 peserta pawai berjalan beriringan. Ada yang membawa replika mushaf raksasa, ada pula yang menampilkan kaligrafi berjalan.
Hartawan, Ketua Panitia, menyebut pawai itu hasil musyawarah panjang. “Kebutuhan peserta, dewan hakim, konsumsi, pengamanan, sampai pelayanan kesehatan. Semua kami koordinasikan,” ujarnya.
Bagi Plt. Camat Praya Timur H. Jamardi, pawai dan lomba hanyalah pintu masuk. Tujuan akhirnya lebih jauh: membuat Al-Qur’an hidup di rumah-rumah warga.
“MTQH tidak semata-mata menjadi ajang perlombaan. Ini sarana membumikan nilai-nilai Al-Qur’an,” kata Jamardi. Ia berharap dari Praya Timur lahir qari dan hafizah baru yang bisa membawa nama kecamatan hingga ke tingkat provinsi dan nasional. “Insyaallah, utusan Praya Timur siap mempertahankan prestasi dan mendukung Lombok Tengah untuk kembali meraih hasil terbaik,” ucapnya.
Hadiah Umrah dan Tanggung Jawab Juara.
Di tengah pidatonya, Pathul menyisipkan kabar yang paling ditunggu para peserta: pemerintah daerah akan terus memberi apresiasi. Bentuknya beragam, salah satunya pemberangkatan umrah bagi qari, qariah, hafiz, hafizah, mufasir, dan mufasirah berprestasi.
Bagi banyak keluarga di Lombok Tengah, itu bukan hadiah kecil. Itu pengakuan bahwa menghafal dan melantunkan ayat punya tempat terhormat di ruang publik.
Pathul lalu menutup dengan pesan yang ditujukan langsung ke peserta. Jangan berhenti belajar. Jangan puas.
Karena mempertahankan tradisi juara, menurutnya, jauh lebih sulit daripada meraihnya pertama kali.
Di luar lapangan, suara takbir masih menggema. Pawai sudah selesai, lomba baru akan dimulai. Dan di antara sorak itu, ada satu pesan yang sengaja digarisbawahi panitia: piala boleh dipajang, tapi Al-Qur’an harus diamalkan.

