Faktantb.com. — Deru mesin bor berhenti Sabtu siang, 1 Agustus 2025. Dari tanah halaman Masjid Baitul Islam, Dusun Lingkok Belek, Desa Langko, Kecamatan Janapria, air pertama menyembur. Anak-anak yang sedari tadi menunggu langsung berlari, ember plastik di tangan.
Bagi warga Lingkok Belek, itu bukan sekadar air. Itu akhir dari antrean panjang ke tetangga desa setiap kemarau tiba.
Di tempat yang sama, Polresta Lombok Tengah meresmikan Sumur Bor Polmas Polda NTB. Program ini dikerjakan bersama Polda NTB, dan sasarannya sederhana: memastikan warga tidak lagi kekurangan air bersih saat langit tak lagi menurunkan hujan.
Kapolresta Lombok Tengah, Kombes Pol. Hariyanto, berdiri di depan warga dengan seragam lengkap. Ia tidak banyak bicara soal statistik kejahatan. Yang ia bawa hari itu adalah janji lain dari institusi yang selama ini dikenal lewat razia dan patroli.
"Air bersih kebutuhan pokok. Melalui Program Sumur Bor Polmas ini, kami ingin memastikan masyarakat dapat memperoleh akses air bersih dengan lebih mudah. Ini bentuk bakti sosial Polri sebagai wujud kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan," katanya.
Hariyanto menegaskan, kehadiran polisi hari ini tidak berhenti di seragam. Sumur bor itu, menurutnya, adalah cara Polri menjadi mitra, bukan hanya pelindung dan pengayom. Ia menyebut sumur ini akan memotong dua persoalan sekaligus: krisis air saat kemarau, dan beban ekonomi warga yang selama ini harus membeli air dengan harga tinggi.
Di Janapria, persoalan air memang berulang setiap tahun. Saat musim kemarau, sumur-sumur dangkal mengering. Warga harus menempuh jarak cukup jauh atau membayar mobil tangki. Bagi keluarga yang pendapatannya pas-pasan, itu artinya memilih antara membeli air atau kebutuhan lain.
Kepala Dusun Lingkok Belek menyambut peresmian itu dengan nada lega. Ia menyebut sumur bor ini sebagai "harapan baru" bagi warganya. Selama ini, kata dia, air bersih adalah kendala yang paling terasa ketika musim kemarau datang.
Acara di Masjid Baitul Islam bukan satu-satunya. Polresta Lombok Tengah juga telah menyiapkan fasilitas serupa di Polsek Praya Timur. Lokasinya sengaja dipilih agar bisa dipakai warga sekitar yang selama ini kesulitan akses air bersih.
Program ini masuk dalam paket bakti sosial Polda NTB dan jajarannya. Bahasanya resmi: mendukung peningkatan kualitas hidup masyarakat melalui penyediaan sarana yang benar-benar dibutuhkan. Praktiknya di lapangan: satu titik air untuk ratusan kepala keluarga.
Perubahan peran seperti ini bukan baru di Polri. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak polres di daerah berlomba membuat program yang menyentuh kebutuhan dasar: bedah rumah, pasar murah, hingga sumur bor. Tujuannya jelas, mendekatkan institusi ke masyarakat di luar ruang sidang dan kantor polisi.
Di Lingkok Belek, uji coba pertama berjalan lancar. Air jernih mengalir ke toren masjid. Warga antre membawa jeriken. Tak ada spanduk besar, tak ada pidato panjang. Hanya doa bersama setelah salat, lalu mesin kembali dinyalakan.
Hariyanto menutup sambutannya dengan kalimat yang kini sering diulang jajaran Polri: pelayanan terbaik bukan hanya lewat penegakan hukum, tapi juga lewat aksi nyata yang menyentuh dapur warga.
Saat matahari Lombok mulai condong ke barat, anak-anak masih bermain di sekitar keran baru itu. Bagi mereka, kemarau tahun ini mungkin akan terasa sedikit berbeda.

