Lombok Tengah, Faktantb.com (29/9/2026). – Politeknik Pariwisata Lombok kembali memperkuat sinergi dengan dunia industri melalui penyelenggaraan Career Expo 2026. Kegiatan bertema _“Beyond Regulation: Your Gateway to the Industrial”_ itu menjadi ruang pertemuan antara mahasiswa, alumni, pencari kerja, dan pelaku industri pariwisata.
Career Expo 2026 tidak sekadar menjadi bursa kerja, tetapi juga upaya memperkuat keterhubungan pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.
Ketua Panitia Career Expo 2026, Fahman Totoki, mengatakan kegiatan tersebut dirancang untuk memberi akses yang lebih luas bagi mahasiswa dan alumni terhadap informasi peluang kerja sekaligus memahami kebutuhan industri.
“Kelulusan bukanlah akhir dari perjalanan mahasiswa. Justru menjadi awal perjalanan baru untuk memasuki dunia profesional, membangun karier, meningkatkan kompetensi, serta memperoleh posisi yang tepat di dunia industri,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Career Expo diselenggarakan melalui kerja sama dengan pusat pengembangan karier pariwisata dan berbagai institusi yang memiliki hubungan erat dengan industri. Peserta tidak hanya diharapkan memperoleh informasi lowongan, tetapi juga memahami proses rekrutmen, kompetensi yang dibutuhkan, serta peluang pengembangan karier.
Tahun ini, Career Expo 2026 diikuti 25 institusi dan perusahaan dengan total sekitar 2.420 peluang pekerjaan. Dari jumlah tersebut, sekitar 270 peluang berasal dari institusi dalam negeri dan sekitar 2.250 peluang dari perusahaan atau institusi luar negeri. Sebagian besar diperuntukkan bagi tenaga kerja dengan kompetensi di bidang pariwisata dan industri terkait.
Wujud Kolaborasi Triple Helix
Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kesempatan Kerja Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Provinsi Nusa Tenggara Barat, H. Isnan Taufik, yang hadir mewakili Pemerintah Provinsi NTB, mengapresiasi pelaksanaan Career Expo 2026 sebagai bentuk konkret kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, serta dunia usaha dan dunia industri.
“Career Expo bukan sekadar kegiatan pencari kerja. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang strategis untuk mempertemukan kompetensi, kebutuhan industri, dan peluang kerja dalam satu ekosistem yang saling mendukung,” kata Isnan.
Menurut Pemprov NTB, kegiatan ini merupakan wujud nyata sinergi _triple helix_, yakni kolaborasi antara dunia pendidikan, pemerintah, serta dunia usaha dan dunia industri. Melalui kolaborasi tersebut, lulusan pendidikan vokasi diharapkan tidak hanya memiliki ijazah dan kompetensi akademik, tetapi juga pengalaman, keterampilan, kemampuan komunikasi, etos kerja, serta pemahaman terhadap aturan dan standar industri.
Teaching Factory Menuju Working to Learn
Direktur Poltekpar Lombok, Dr. Ali Muhtasom, menegaskan penguatan sumber daya dosen menjadi bagian penting dalam meningkatkan kualitas proses pendidikan yang relevan dengan kebutuhan industri.
Salah satu langkah yang ditempuh adalah pengembangan _Teaching Industrial Learning Center_. Melalui konsep tersebut, pengalaman belajar mahasiswa tidak berhenti pada teori dan praktik di laboratorium, tetapi juga diarahkan untuk mendapatkan pengalaman bekerja langsung dalam lingkungan industri.
“Kalau sebelumnya kita mengenal _learning by doing_, sekarang kita geser ke _teaching factory_. Di laboratorium program studi, mahasiswa mendapatkan pembelajaran dengan standar internasional sekaligus standar industri,” ujar Ali.
Menurut dia, melalui _Teaching Industrial Learning Center_, mahasiswa diarahkan pada konsep _working to learn_, yakni belajar melalui pengalaman bekerja secara langsung.
“Di sana mahasiswa sudah _working to learn_. Mereka bekerja sekaligus belajar, melayani tamu secara langsung, menghadapi komplain tamu secara langsung. Inilah bentuk tanggung jawab kami untuk menjawab kebutuhan industri,” katanya.
Konsep tersebut diharapkan menghasilkan lulusan yang benar-benar siap memasuki dunia kerja. Karena itu, Career Expo 2026 juga diharapkan menjadi momentum bagi perusahaan untuk mendapatkan talenta sesuai kebutuhan.
“Harapan kami, Bapak-Ibu dari industri tinggal memilih dan mencocokkan. Oh, ini memang yang saya cari. Tidak perlu terlalu banyak pertanyaan lagi karena proses pembelajarannya sudah kami arahkan sesuai kebutuhan industri,” ujar Ali.
Ia menambahkan, penyelarasan pendidikan dan kebutuhan industri akan terus dilakukan, salah satunya dengan melibatkan alumni yang telah bekerja di berbagai hotel maupun sektor pariwisata. Pengalaman alumni diharapkan menjadi masukan bagi kampus dalam mengembangkan pembelajaran.
Poltekpar Lombok juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai sektor, termasuk industri makanan dan layanan penerbangan. Mahasiswa, khususnya Program Studi Seni Kuliner, nantinya diharapkan dapat memahami standar makanan yang diterapkan pada industri penerbangan melalui keterlibatan langsung pihak industri dalam proses pembelajaran.
“Kami juga akan mengundang pihak industri untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa, khususnya mahasiswa seni kuliner, mengenai standar makanan di pesawat. Dengan begitu, dosen juga bisa menyesuaikan proses pembelajaran dengan standar yang diterapkan industri,” jelasnya.
Ali menegaskan, apabila industri membutuhkan tenaga kerja dengan kompetensi tertentu, Poltekpar Lombok siap menyiapkan lulusan sesuai standar yang dibutuhkan.
“Kalau ada industri yang membutuhkan 10 orang, kami sudah siap. Karena standarnya sudah kami sesuaikan, sudah _match_. Harapan kami proses ini terus berjalan,” katanya.
Menurut dia, kerja sama antara kampus dan industri tidak boleh berhenti pada pelaksanaan Career Expo. Kolaborasi dapat diperluas melalui kehadiran dosen tamu, praktisi industri, kerja sama pembelajaran, maupun berbagai bentuk kegiatan lainnya.
“Harapan kami bukan hanya sekadar _link and match_, tetapi benar-benar terjadi _micro match_, sehingga ketika kompetensi yang dibutuhkan industri sudah kami sesuaikan, akan semakin sulit untuk terlepas. Inilah yang terus kami bangun,” ungkapnya.
Editor: Mustain

